Thursday, March 27, 2014

Candi Gayatri dan Kuti Sanggrahana

Pada tahun 1359 kerajaan Majapahit menyelenggarakan upacara suci Srada Agung yaitu upacara memperingati para leluhur kerajaan Majapahit. Yang menjadi hal penting dan menarik di dalam peristiwa sejarah ini adalah :
Pertama, mengapa... Upacara yang suci dan Srada Agung memilih dan menetapkan diadakannya upacara metak (menyimpan) abu jenasah Gayatri?
Kedua, apa yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya titah raja Majapahit yang tersohor ini memilih tempat untuk menyimpan abu jenasah neneknya di desa Boyolangu dalam sebuah candi berarsitektur Hindu dan Budha yang menggambarkan simbol ke-Bhinekaan atau pluralistik?
Pertama Gayatri seorang tapasi yang berjasa menggali gagasan besar Bhineka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrua, yang artinya sangat penting bagi kokohnya nusantara.
Kedua, diduga kuat titah itu mempertimbangkan lokasi Boyolangu berada ditengah wilayah yang terkenal sebagai daerah Kadewaguruan atau Karesian sangat tepat dan cocok dipilih sebagai tempat metak (menyimpan) abu jenasah seorang Tapasi Besar Gayatri. Selain itu, selama hidupnya Gayatri banyak memperdalam ilmunya di daerah tersebut. Sedangkan arsitektur senkritik Hindu-Budha merupakan bentuk simbolis pemikirannya yang pluralis.

Hal lain yang menarik dalam rangkaian peristiwa upacara kenegaraan Srada Agung ini salah satu diantaranya adalah profil dan bentuk arsitektur bangunan yang dipergunakan untuk nyangrah (beristirahat) Raja Hayam Wuruk bersama rombongan tempatnya terletak di desa Wajak Kidul bernama Kuti Sanggrahana. Bangunan tersebut diduga kuat berbahan baku dari kayu dan sekarang hanya tinggal umpak batu yang cukup besar berjumlah 6 buah berbentuk trapesium dengan bidang atas berukuran sisi 1 meter dengan ukuran kedalaman yang belum diketahui. Jarak umpak satu sama lain konsisten 17 m dan 19 m. Umpak tersebut sisi atas berlubang diduga kuat sebagai penyangga soko yang tentunya berjumlah 6 buah. Diperkirakan Kuti Sanggrahana ini bangunannya sangat besar. Perlu diketahui umpak Pendopo Kongas Arum Kusumaning angsa satu sama lain sekitar 8 meter.
Karya arsitektural Majapahit ini sangat penting dijaga kelestariannya dan dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, khususnya ilmu bangunan, arsitektur rencana detail tata ruang wilayah. Hal yang sangat menarik untuk diperhatikan oleh semua pihak untuk mengapresiasi kawasan ini. 
Dalam peta bumi letak basis-basis Mandala Kadewaguruan sebenarnya bukan hanya di Tulungagung, tetapi membentang dari kawasan dekat laut selatan sekitar Lumajang sampai ke Gunung Kidul Jawa Tengah. Kawasan ini pada waktu itu suasananya sunyi senyap dan terpencil dari pusat-pusat keramaian, tetapi cocok bagi peradaban Hindu-Budha untuk digunakan sebagai daerah pertapaan maupun daerah Kadewaguruan menggali inspirasi tentang kehidupan. Tulungagung peninggalan-peninggalan sebagai daerah Karesian lebih banyak dan lebih menonjol, mungkin letaknya secara geografis lebih strategis terutama Gunung Wilisnya yang dianggap tidak berapi, banyak rawa, hutan dan perbukitan-perbukitan, dilewati tikungan sungai Brantas dan tembusan sungai Ngrowo yang strategis untuk jalur transportasi air pada waktu itu. 

No comments:

Post a Comment